Aceh Info | Aceh-Online.com - Tips, Office, Komputer, Blog, Website, Mobile, Live Tv, Movie Online, Music Online and news from anywhere and at anytime!

Tapak Kaki Raksasa Hebohkan Aceh

BANDA ACEH – Ribuan warga dari berbagai desa di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, berduyun-duyun menyaksikan tapak kaki berukuran raksasa di pinggir Sungai Tamiang, Desa Gelung, Kecamatan Seruway.

“Itu merupakan fakta, dan saya sendiri menyaksikan sebuah tapak kaki berukuran panjang 95 centimeter dan lebar 40 centimeter di pinggir Sungai Tamiang,” kata Camat Kecamatan Seruway, Asra, saat dihubungi dari Banda Aceh, Jumat (12/2/2010) malam. Ia menyebutkan informasi tentang adanya tapak kaki mirip tapak kaki kiri manusia, namun ukurannya cukup besar itu, tersebar begitu cepat, sehingga masyarakat antusias berbondong-bondong menyaksikannya.

Mahasiswa Norwegia Sumbang Alat Terapi Kejiwaan ke RSJ

BANDA ACEH – Mahasiswa (S2) jurusan magister kesehatan jiwa (mental health magister) dari Universitas Hedmark Colleg, Norwegia, yang sedang magang di Aceh, menyumbang alat terapi kejiwaan untuk pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, Senin (19/10).

Direktur Kepala RSJ Aceh, Drs H Saifuddin AR MPH MKes kepada Serambi, usai menerima bantuan mengatakan, bantuan yang diberikan berupa terapi kejiwaan berupa alat musik (rebana dan piano mini), catur, bola voli, bolakaki, peralatan tenis meja, bola basket, dan beberapa pakai olahraga lain. Bantuan ini diserahkan langsung oleh Trine Lise mewakili enam rekan mahasiswa Norwegia lainnya. “Kita berterimakasih atas bantuan dari mahasiswa magister kesehatan jiwa asal Norwegia yang saat ini sedang mangang di RSJ. Ini sebuah perhatian besar yang diberikan mereka. Mereka (Norwegia) memang menjadi sahabat bagi Aceh saat ini, karena perhatian yang diberikan sangat besar,” ujarnya.

Donasi untuk Nek Rahsia

Nek Rahsia" src="http://harian-aceh.com/images/foto/nyak-rahsia-foto-suparta.jpg" alt="" width="327" height="146" />Sudah baca berita di bawah ini. Kalau belum saya yakin, Anda bakalan sedih dan terharu dengan berita dibawah ini. Tapi saya tidak yakin kalau ada yang mau berdonasi? Berikut cerita sedih di balik eforia kampanye yang menghabiskan milyaran rupiah.

 

 

Saya Sakit, Ada Bawa Obat Nak?

Bilah-bilah papan tak rapat, saban hujan, plastik hitam berdebu tak mampu menahan rintik mengguyur tubuh layu itu. Dingin pegunungan Gleu Pucok, Kecamatan Geumpang, Pidie, disergapnya hanya dengan sehelai kain. Sejak empat tahun silam, hanya sehelai sarung menutup tubuhnya.

Saling Serang dalam Kampanye Partai Aceh dan Partai SIRA

partai sira" src="http://www.aceh-online.com/gamba/partai_aceh_partai_sira.jpg" alt="" width="241" height="100" />LHOKSEUMAWE,  Dua partai lokal di Nanggroe Aceh Darussalam yang memiliki basis massa cukup besar, Partai Aceh dan Partai SIRA saling serang dalam setiap kampanye terbuka mereka di wilayah pesisir Pantai Timur Aceh beberapa hari terakhir ini. Meski tak secara jelas menyebut nama partai, namun kedua pa rtai lokal tersebut saling menuduh di antara mereka adalah pengkhianat perjuangan rakyat Aceh.

Persaingan Partai Aceh dan Partai SIRA secara tak langsung juga melibatkan dua pemimpin di Aceh. Gubernur Irwandi Yusuf di Partai Aceh dan Muhammad Nazar yang merupakan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai SIRA. Irwandi menjadi juru kampanye andalan Partai Aceh, sementara Nazar menjadi juru kampanye utama Partai SIRA.

25 LSM Ajukan Diri Sebagai Pemantau Pemilu di Aceh

BANDA ACEH, Sebanyak 25 lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah mengajukan diri sebagai pemantau pelaksanaan pemilihan umum 2009 di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sebanyak tiga diantaranya sudah mengembalikan formulir permohonan akreditasi dan validasi kepada Komite Independen Pemilihan Aceh.

Ketua Kelompok Kerja Organisasi KIP Aceh, Nurjani, Kamis (26/3), mengatakan, tiga di antara 25 lembaga yang sudah mengajukan permohonan, sudah mengembalikan formulir pendaftaran tersebut. “Kemarin hari terakhir batas waktu pengambilan formulir pendaftaran dan pengajuan permohonan menjadi pemantau,” terang Nurjani.

Ketegangan Aceh makin memuncak

Pergaduhan peribadi, politik punca kematian

Aceh makin memuncak" src="http://www.kodam-ii-sriwijaya.mil.id/images/stories/peta_nad.jpg" alt="" width="259" height="160" />JAKARTA: Ketegangan di wilayah baru damai daripada perang, Aceh, semakin memuncak menjelang pilihan raya Parlimen April ini, dengan 16 maut dan berpuluh-puluh bangunan dan kereta rosak sejak beberapa bulan lalu, kata kumpulan pemerhati semalam.

Kebanyakan kematian disebabkan pergaduhan peribadi, tetapi sebahagian lagi dibunuh bermotifkan politik, kata unit Pemerhati Konflik Aceh Bank Dunia dalam laporan di laman webnya.

Keganasan mencecah ‘tahap membimbangkan dan ia semakin memuncak’ menjelang pilihan raya bulan depan, kata Bank Dunia.

Aceh semakin tenang sejak kerajaan menandatangani perjanjian damai dengan pemisah pada 2005, menamatkan perjuangan 29 tahun yang mengorbankan 15,000 orang.

Wapres Minta Aceh Dijaga

BANDA ACEH - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat Aceh menjaga fasilitas dan infrastruktur yang telah dibangun Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) selama empat tahun terakhir. Pemprov Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara diharapkan untuk meneruskan proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca berakhirnya masa tugas BRR.

Menurut Wapres, anggaran pembangunan di Aceh saat ini dibandingkan dengan jumlah penduduk merupakan yang terbesar di Indonesia. Di Aceh, anggaran pembangunan Rp 6 juta per kapita. Padahal, anggaran pembangunan di Jawa hanya Rp 1,5 juta per kapita.

Aceh on a knife’s edge

I want to begin with a story about Nepal. Last week, my organisation issued a report called Nepal’s Faltering Peace Process. As you know, Nepal had been a kingdom, wracked by an insurgency in which Maoist guerrillas fought the Nepalese army. A democratic uprising ended with the king thrown out, a republic established, and a peace deal made with the rebels. Last April, in free elections, the Maoists won control of government, but today, according to my colleagues, the peace process is under threat. The Maoists have not fully adjusted to democratic politics, and some of their former rivals still see them as an illegitimate force. They have brought some problems on themselves by starting to resemble the old government in terms of patronage, corruption, and factional fighting, to the point that foot-soldiers are beginning to ask, ‘Is this what we were fighting for?’ Parts of Nepal are seeing a rise in violence accompanied by a near collapse in effective policing. The issue of how to reintegrate the former rebels into the new political system has not been resolved, and the Maoists are retaining their former military organisation. In the meantime, the Nepalese army remains a law unto itself and deeply opposed to some provisions of the peace deal.

Sponsors

Webs Traffic Rank

Links

Archive

Sinema Indo – Ketika Cinta Bertasbih 2

Klikk Disini Untuk Nonton

Possibly Related Posts:


Gaya Hidup/Kesihatan

Waspada! 30 Penyakit Akibat Pemanasan Global

BERDASARKAN Data Organisasi Kesehatan dunia (WHO) tercatat ada sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang tahun 1976-2008 akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Munculnya penyakit ini akibat temperatur suhu panas bumi yang terus meningkat. Yang paling jelas kelihatan adalah penyakit demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat mematikan. Menurut WHO, masalah kesehatan akibat pemanasan global ini lebih dirasakan oleh negara-negara berkembang yang sebagian masih miskin karena minimnya dana sehingga tak mampu lagi melaksanakan berbagai program persiapan dan tanggap darurat.

Terbanyak Dibaca